Bagikan ini

Senin, 05 Maret 2012

PPMDI: GERAKAN PEMBARUAN DI INDONESIA (MUHAMMADIYAH DAN PERSIS)

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Kehidupan manusia yang dinamis akan selalu bergerak dan berkembang, begitu juga dengan pemikiran-pemikiran yang melahirkan perubahan dalam berbagai bidang atau sendi kehidupan manusia, baik di bidang ekonomi, politik, maupun agama. Sehingga tidak menjadi sesuatu yang aneh atau mengherankan kemunculan para pemikir yang bertujuan untuk berusaha melahirkan situasi baru sebagai bentuk tujuan memperbaharui situasi atau kondisi sebelumnya menjadi lebih baik.
Pola pikir atau patterned thinking tersebut juga menjalar ke Indonesia, dengan munculnya organisasi-organisasi pergerakan Islam yang bertujuan untuk merubah keadaan umat Islam yang dipandang pragmatis[1] atau cenderung tidak mau memahami keadaan yang memerlukan relevansi interpretasi terhadap kekuatan yang masuk dari luar dengan tujuan berusaha melemahkan iman.
Dengan berdasarkan paradigma tersebut, banyak pergerakan Islam mengacu kepada semangat dakwah islamiyah bermunculan, dilahirkan oleh para tokoh pembaharuan Islam yang bertujuan memberikan perlawanan terhadap tekanan para orientalis yang ingin melemahkan iman umat Islam di Indonesia, baik yang bersifat damai dan menjunjung perdamaian atau gerakan radikal yang bersifat keras terhadap penyimpangan yang terjadi.
Gerakan pemikiran di Indonesia lahir karena inisiatif dan usaha aktivis Islam dan para tokoh pembaharuan Islam, seperti yang dilakukan oleh gerakan “Muhyi al-Tsaris Salaf” yang didirikan oleh Ibn Taimiyah (1263-1328) dengan tujuan membangkitkan kembali ajaran lama, yaitu ajaran para sahabat dan tabi’in, serta ajaran Ahmad ibn Hanbal yang selalu mempraktekkan ijtihad dan anti kemusyrikan, dengan berpedoman kepada Alquran dan Hadis.[2]
Kemudian, setelah kerajaan Saudi Arabia disatukan di bawah kalimat tauhid yang dipelopori oleh raja Abdul Aziz bin Abd Rahman al-Saud, karena perhatiannya terhadap kondisi umat Islam di seluruh dunia menjadikan inisiatif untuk menyebarkan kalimat tauhid ke seluruh dunia dan mengembalikan seluruh umat Islam kembali kepada ajaran Alquran dan Hadis.[3]
Karena semangat dan hasil inisiatif dari raja Abdul Aziz tersebut, di Indonesia juga bermunculan gerakan pembaharuan Islam yang berlandaskan kepada kalimat tauhid, dengan tujuan mengembalikan umat Islam kepada sunnah Nabi SAW, sehingga semangat untuk mengadakan pembaharuan tersebut yang menjadi pedoman umat Islam yang ingin mengadakan perubahan bagi kondisi umat Islam pada masa tersebut dan bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda yang sedikit banyak merusak akidah umat Islam di Indonesia, di antara sekian banyak organisasi pergerakan Islam yang lahir di Indonesia tersebut salah satu di antaranya adalah Muhammadiyah dan Persis (Persatuan Islam).
Berkaitan dengan materi yang ditawarkan di dalam mata kuliah PPMDI (Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam), untuk membahas mengenai organisasi pergerakan Islam di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan Persis, maka di dalam makalah ini membahas mengenai materi yang ditawarkan, sehingga makalah ini mengangkat judul: GERAKAN PEMBAHARUAN DI INDONESIA (MUHAMMADIYAH DAN PERSIS).
B.     Rumusan Masalah
Agar pembahasan di dalam makalah ini dapat lebih fokus, maka makalah ini dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana profil Muhammadiyah dan Persis?
2.      Bagaimana konsep pergerakan Muhammadiyah dan Persis?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk menguraikan pembahasan sebagai berikut:
1.      Profil Muhammadiyah dan Persis.
2.      Konsep pergerakan Muhammadiyah dan Persis.
D.    Metode Penulisan
Secara umum, metode penulisan yang diterapkan di dalam makalah ini adalah termasuk metode kepustakaan (library research), yaitu penulisan yang di dalam pelaksanaannya menggunakan literatur kepustakaan, baik berupa buku, catatan, atau laporan hasil penelitian.[4] Dan setelah masalah dirumuskan, maka langkah berikutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoritis.[5]
Di dalam penyusunan makalah ini dalam pengambilan kutipan untuk dijadikan catatan untuk membantu sumber data atau bahan bacaan yang kemudian disusun dengan menggunakan beberapa pendekatan, di antaranya di dalam tata cara mengutip adalah dengan beberapa hal sebagai berikut:[6]
1.      Sebelum membaca dan mengutip dari buku teks, melihat terlebih dahulu daftar indeks isi di belakang atau di depan buku tersebut, untuk mencari hal-hal yang berkenaan dengan materi yang dikutip.
2.      Jika mengutip dari majalah ilmiah, leaflet, dan sebagainya, melihat terlebih dahulu judul dari artikel.
3.      Membaca secara keseluruhan dari tulisan yang ingin dikutip.
4.      Setelah dibaca keseluruhan, maka dibaca kembali secara seksama untuk membaca catatan yang diperlukan.
Maksud dengan penerapan metode kepustakaan di dalam makalah ini adalah agar dapat mengetahui semua sumber literatur yang dapat dijadikan referensi, terutama mengenai pembahasan terkait dengan perumusan masalah, sehingga dapat memberikan kekuatan argumen di dalam penulisan karena memiliki sumber yang jelas.
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah bersifat deduktif dan deskriptif, deduktif maksudnya membahas suatu permasalahan dari yang bersifat umum menuju pembahasan yang bersifat khusus, dan deskriptif maksudnya penggambaran secara apa adanya dengan cara penalaran, dalam hal ini berarti akan dipaparkan secara apa adanya sumber literatur mengenai Muhammadiyah dan Persis beserta komentar yang diperoleh secara apa adanya.
E.     Batasan Masalah
Dalam batasan masalah ini dimaksudkan memberikan pembatasan terhadap pembahasan yang diuraikan, misalnya terdapat kekurangan di dalam metode penulisan yang dilakukan, maka hal tersebut merupakan alasan karena makalah ini tidak sepenuhnya penelitian, melainkan pemaparan bahasan dalam bentuk makalah, yang terkait perumusan masalah dengan mencoba mengaplikasikan metode penulisan yang dipahami dari bahan bacaan tentang metodologi penelitian.



[1]Berkaitan dengan percaya bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, pernyataan, ucapan, dan sebagainya) bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia. Lihat Ebta Setiawan, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Versi Offline, Freeware copyright 2010.


[2]Dadan Wildan, Yang Da’i Yang Politikus: Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis, Cetakan kedua, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999, h. 3-4.

[3]Pusat informasi dan komunikasi Islam di Indonesia, Penunjang Aktivitas Dakwah di Asia Tenggara: Seputar Organisasi Islam Menghadapi Serangan Budaya Zaman, versi ebook download, 2002, www.alislam.or.id


[4]M. Iqbal Hasan, Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002, h. 11.

[5]Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010,     h. 18.

[6]Moh. Nazir, Metode Penelitian, Cetakan keenam, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005,    h. 104.



 
BAB II
PEMBAHASAN


A.    Profil Muhammadiyah dan Persis
1.      Muhammadiyah
Pendiri gerakan muhammadiyah adalah Ahmad Dahlan, dilahirkan di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1868 dengan nama Muhammad Darwis, ayahnya bernama Abubakar yang merupakan seorang khatib di sebuah masjid besar kesultanan Yogyakarta, ibunya bernama Siti Aminah, putri dari seorang kiyai yang juga menjadi penghulu kesultanan bernama Ibrahim, sehingga garis keturunan dari Muhammad Darwis atau Ahmad Dahlan dari pihak ayah atau ibu adalah keturunan ulama.[1]
Latar belakang pendidikannya dimulai dari pendidikan agama yang diajarkan oleh ayahnya dari usia sekolah, sehingga Ahmad Dahlan tidak sekolah selain belajar membaca Alquran dan dasar-dasar ilmu agama Islam dengan ayahnya, kemudian pada umur 8 tahun Ahmad Dahlan telah lancar membaca Alquran sampai selesai (khatam), kemudian dia belajar ilmu agama lainnya dengan beberapa ulama yang di antaranya masih ada kaitan atau hubungan keluarga dengan Ahmad Dahlan, sehingga dia belajar kepada kerabat dekat yang juga merupakan ulama.[2]
Setelah perkawinan Ahmad Dahlan, dia dianjurkan untuk menunaikan ibadah haji, setelah tiba di Mekkah pada bulan Rajab 1308 H atau 1890 M, di kota Mekkah Ahmad Dahlan belajar kepada beberapa orang guru, salah satu di antaranya adalah Ahmad Khatib, selama di kota Mekkah dia memikirkan tentang cita-cita pembaharuan terhadap umat Islam.[3]
Sejak saat itu Ahmad Dahlan mulai menjalankan langkah-langkah pembaharuan pemikirannya dengan mengadakan perubahan terhadap arah orang yang melakukan shalat agar arah orang yang ada di pulau Jawa (Yogyakarta) menghadap ke arah kiblat yang tepat, karena menurutnya selama ini arah kiblat masyarakat setempat adalah keliru dengan dasar ilmu falak.[4]
Pembaharuan yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan adalah pembaharuan secara perorangan, sehingga ketika mencoba merealisasikan perubahan arah kiblat di masjid kesultanan Yogyakarta dia tidak berhasil, kemudian dia membangun mushalla sendiri yang merupakan hasil renovasi terhadap mushalla yang telah dibangun oleh ayahnya dengan arah kiblat yang berbeda dengan masjid kesultanan.[5]
Hampir secara keseluruhan pemikiran Ahmad Dahlan berasal dari keprihatinan terhadap situasi dan kondisi global umat Islam yang terjadi pada saat itu yang tenggelam dalam stagnasi, kebodohan, serta keterbelakangan, ditambah lagi dengan politik kolonial Belanda yang sangat merugikan bangsa Indonesia pada saat tersebut.[6]
Kemudian pada tahun 1911, Ahmad Dahlan mendirikan sebuah sekolah agama yang diberi nama Muhammadiyah, dan pendidikan ini tidak diadakan di masjid atau di mushalla, tetapi di dalam gedung yang menggunakan meja, kursi, dan papan tulis, kemudian pada tanggal 19 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 H, dia mendirikan perkumpulan yang diberi nama Muhammadiyah yang bertujuan menghidupkan kembali ajaran Islam yang murni serta menuruti semua ajaran Islam.[7]
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ahmad Dahlan mempunyai latar belakang keturunan ulama, sehingga pemikiran kritis untuk memajukan umat Islam yang berada di masa stagnasi[8] dan kondisi tertekan oleh kolonial Belanda merupakan bentuk usaha yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan, dengan bentuk mendirikan pergerakan yang diberi nama gerakan Muhammadiyah yang berkembang sampai sekarang.
2.      Persis (Persatuan Islam)
Persatuan Islam atau Persis didirikan oleh KH Zamzam di Bandung pada tanggal 17 September 1923, merupakan organisasi Islam yang bertujuan memberlakukan hukum Islam berdasarkan Alquran dan Hadis,[9] dan pada awalnya terbentuk pada masa penjajahan kolonial Belanda dengan tidak berdasarkan kepentingan atau kebutuhan masyarakat, tetapi karena terpanggil oleh kewajiban untuk menyampaikan risalah dari Allah SWT.[10]
Ide dari pendirian organisasi Persis berasal dari pertemuan yang bersifat non-formal yang dilakukan secara berkala di rumah salah seorang kelompok masyarakat, di dalam pertemuan tersebut membicarakan berbagai permasalahan atau peristiwa yang terjadi atau yang sedang dihadapi, termasuk membicarakan masalah keagamaan dan gerakan keagamaan pada umumnya, dan pada saat itu KH Zamzam dan Muhammad Yunus mengemukakan pikiran-pikiran mengenai gerakan organisasi Islam.[11]
Menurut Noer, sejak mulai berdiri secara umum Persis kurang memberi penekanan pada kegiatan organisasi dan tidak terlalu berminat untuk memperbanyak atau membentuk cabang atau menambah jumlah anggota, karena pembentukan cabang tergantung dari inisiatif dari peminat, tidak berdasarkan oleh suatu rencana yang dilakukan oleh pemimpin organisasi secara berstruktur, atau dapat dikatakan pembentukan cabang dari organisasi Persis dilakukan secara bebas sesuai dengan inisiatif dari anggota organisasi.[12]
Persis menjadi terkenal atau mengalami kemajuan setelah A. Hasan, Muhammad Natsir, dan Isa Anshary, menjadi tulang punggung dari gerakan Persatuan Islam, dengan tujuan mengembalikan umat Islam kepada Alquran dan Hadis, menghidupkan ruh jihad dan ijtihad, serta membasmi segala bentuk bid’ah, khurafat, takhyul, taqlid, dan syirik, dengan menggerakkan dakwah kepada seluruh lapisan masyarakat, mendirikan Madrasah untuk anak-anak, kursus pengajian untuk para pemuda, dan menyediakan kelas khusus untuk siswa yang sekolah pada sekolah Belanda, menerbitkan risalah dan majalah “Pembela Islam” (1929-1933), dan masih banyak lagi bentuk pergerakan lainnya yang dilaksanakan Persis dalam langkah pencapaian tujuan gerakan tersebut.[13]
Sehingga dapat disimpulkan bahwa gerakan Persis berdiri dengan landasan untuk mengembalikan umat Islam kepada Alquran dan Hadis, karena pengaruh dari kolonial Belanda yang menjadikan masa kebodohan bagi umat Islam, sehingga Persis merupakan bentuk aksi yang bertujuan untuk merubah paradigma tersebut.
Pembentukan organisasi pergerakan Islam Persatuan Islam adalah sebagai bentuk jawaban terhadap berbagai macam doktrin yang dapat merusak akidah umat Islam, sehingga membangkitkan semangat para ulama untuk melawan dengan menggerakkan masyarakat dan mengantisipasi terjadinya kemusyrikan yang banyak terjadi dan dipandang sebagai bentuk pencemaran terhadap kemurnian ajaran Islam.
B.     Konsep Pergerakan Muhammadiyah dan Persis
Pada dasarnya, gerakan Islam yang muncul di Indonesia adalah bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda, dan hal tersebut dilakukan oleh para kiyai (ulama) dan para petani yang telah mengakar di dalam struktur masyarakat tradisional di Indonesia, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa nasionalisme dengan diawali oleh bentuk reaksi perlawanan priyayi terhadap konsolidasi pemerintahan Belanda pada akhir abad ke-19.[14]
Adapun konsep dari pergerakan Muhammadiyah secara ringkas bahwa maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah “membangun, memelihara, dan memegang teguh agama Islam dengan rasa ketaatan melebihi ajaran dan faham-faham lainnya, untuk mendapatkan suatu kehidupan di dalam diri, keluarga dan masyarakat yang sungguh adil dan makmur, bahagia, bahagia, sejahtera, aman, lahir dan batin dalam naungan ridha Allah SWT”, kemudian dirucmuskan di dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah yang dijelaskan sebagai berikut:[15]
1.      Menegakkan, yang berarti berusaha agar tidak roboh, dan hal tersebut dapat terealisasi pada saat sesuatu yang ditegakkan diletakkan di atas pondasi yang kokoh, dipegang erat dan dipertahankan dengan penuh konsekuen.
2.      Menjunjung tinggi, yang berarti membawa atau menjunjung di atas segalanya, dan menghormatinya.
3.      Agama Islam, yang dipahami sebagai agama Allah serta menjamin kesejahteraan hakiki di dunia atau kehidupan sesudahnya.
4.      Terwujud, yang berarti menjadi suatu kenyataan akan adanya atau akan keberadaannya.
5.      Masyarakat utama, yaitu masyarakat yang selalu mengejar keutamaan dan kemaslahatan untuk kepentingan hidup umat manusia, masyarakat yang selalu bersikap hormat kepada Allah, dan menanggapi dengan ikhlas segala ajaran-Nya, serta menaruh hormat terhadap sesama manusia selaku makhluk-Nya yang memiliki martabat sebaik-baik makhluk.
6.      Adil dan makmur, yang berarti suatu kondisi masyarakat yang di dalamnya terpenuhi dua kebutuhan pokok yaitu adil (aspek bathin) yang dapat menciptakan masyarakat yang damai, dan makmur (aspek lahir) yang digambarkan secara sederhana dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan, dan kesehatan.
7.      Diridhai Allah SWT, artinya dalam rangka mengupayakan terciptanya keadilan dan kemakmuran masyarakat, maka jalan yang ditempuh semata-mata dengan motif mencari keridhaan Allah SWT.
Muhammadiyah menekankan ketaatan hidup yang didasarkan kepada Alquran dan Hadis, tetapi menolak sistem filsafat dan sistem mengikuti umat Islam yang ada pada zaman pertengahan, dan otoritas pada wali untuk digantikan dengan pelaksanaan ijtihad atau penalaran individu dalam berbagai urusan keagamaan, sehingga Muhammadiyah memberikan kritik terhadap berbagai ritual dalam kelahiran, khitanan, perkawinan, atau ritual pemakaman, serta menolak dengan keras pemujaan tempat keramat tetapi tidak menolak sufisme.[16]
Sedangkan Persis, pada dasarnya perhatian organisasi Persatuan Islam adalah mengutamakan penyebaran paham Alquran dan Sunnah, hal ini dilakukan dengan berbagai aktivitas, di antaranya dengan mengadakan pertemuan umum, tablig, khutbah, kelompok studi, tadarus, pendirian sekolah atau pesantren, penerbitan majalah dan kitab, dan aktivitas lainnya.[17]
Menurut organisasi Persis, selain Alquran dan Hadis merupakan satu-satunya dasar keyakinan dan sikap Muslim, Alquran dan Hadis juga dapat beradaptasi pada kondisi baru melalui ijtihad oleh orang-orang tertentu yang telah memenuhi persyaratan, sehingga Persis menolak praktik umum penggunaan jimat dan penggunaan kekuatan magis untuk penyembuhan, gerakan Persis juga menolak sufisme apabila mengajarkan praktek ritual yang tidak benar, pemujaan wali, atau keyakinan terhadap keterlibatan orang-orang suci dalam berhubungan dengan Tuhan, dan gerakan ini juga menolak pertunjukan wayang kulit dan pertunjukan teater karena mencerminkan nilai-nilai agama Hindu dan melahirkan kebebasan wanita, meskipun Persis adalah gerakan pembaharuan di dalam bidang keagamaan, Persis juga menolak keharusan untuk beradaptasi dengan perkembangan kontemporer dan menegaskan bahwa Islam dengan sendirinya telah bersifat progresif.[18]
Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep pergerakan Muhammadiyah dan Persis adalah mengembalikan umat Islam kepada Alquran dan Sunnah, karena berusaha melawan tekanan doktrin yang dapat mencampuri akidah umat Islam, selain itu sebagai bentuk rasa nasionalisme dengan reaksi perlawanan terhadap kolonial Belanda yang menguasai seluruh aspek masyarakat dalam berbagai sendi kehidupan.



[1]Diktat mata kuliah, Kemuhammadiyahan I-II, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, h. 61.

[2]Ibid.


[3]Ahmad Syaukani, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, Bandung: Pustaka Setia, h. 120.

[4]Ibid.

[5]Ibid.

[6]Khojir, Tradisional dan Modern Pendidikan Islam, Jurnal Ilmiah Manahij, STAIS Kutai, Vol. 1 No. 1, Mei 2008, h. 83.

[7]M. Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Pemikiran dan Pembaharuan dalam Dunia Islam, Cetakan kedua, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998, h. 100.

[8]Keadaan terhenti (tidak bergerak, tidak jalan, tidak aktif). Lihat Ebta Setiawan, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Versi Offline, Freeware copyright 2010.


[9]Nina M. Armando, dkk., (Ed. Bahasa), Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005, h. 289.

[10]Dadan Wildan, Yang Da’i Yang Politikus: Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis, Cetakan kedua, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999, h. 8.

[11] Ahmad Syaukani, Perkembangan Pemikiran…, h. 123.


[12]Ibid., h. 9.

[13]Redaksi Ensiklopedi Indonesia, Ensiklopedi Indonesia, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, h. 2686.

[14]Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam: Bagian Ketiga, pent. Ghufron A. Mas’adi, dari judul asli, A History of Islamic Societies, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999,          h. 324

[15]Diktat mata kuliah, Kemuhammadiyahan…, h. 84-85.

[16] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial…, 1999, h. 328-329.

[17]Diktat mata kuliah, Kemuhammadiyahan…, h. 84-85.


[18]Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial…, 1999, h. 330.


BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dari pembahasan yang diuraikan pada Bab sebelumnya, maka dapat di ambil kesimpulan mengenai uraian makalah yang mengangkat pembahasan mengenai organisasi pergerakan Islam di Indonesia, yaitu sebagai berikut:
1.      Profil organisasi Muhammadiyah dan Persis memiliki latar belakang yang tidak jauh berbeda dalam tujuan pembentukan oleh pendiri kedua organisasi tersebut, yaitu untuk mengembalikan umat Islam kepada Alquran dan Hadis, selain itu latar belakang pendiri kedua organisasi tersebut merupakan orang-orang yang mengerti dan mempunyai latar belakang pendidikan agama yang cukup dan termotivasi dengan pembaharuan yang dilakukan oleh beberapa aktivis Islam di beberapa negara Islam, selain pemikiran kritis yang menimbulkan motivasi untuk mengadakan pembaharuan terhadap keadaan masyarakat yang dianggap di dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan.
2.      Dalam hal konsep pergerakan Muhammadiyah adalah berusaha menghilangkan kebiasaan yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam yang berpedoman kepada Alquran dan Hadis, karena di dalam pemikiran Ahmad Dahlan selaku pendiri gerakan Muhammadiyah, kondisi umat Islam pada masa tersebut adalah kebanyakan melakukan hal-hal yang tidak mempunyai pedoman di Alquran atau Hadis, selain untuk melawan bentuk ancaman yang datang dari doktrin-doktrin penjajah yaitu kolonial Belanda, dan meluruskan pandangan budaya umat Islam sesuai dengan pedoman utama yaitu Alquran dan Hadis secara murni, dan membangun masyarakat Islam yang memiliki kesejahteraan yang sesungguhnya sejalan dengan pedoman agama Islam, dan bentuk implementasi yang dilakukan oleh gerakan Muhammadiyah adalah dengan bergerak di berbagai bidang yang diperlukan masyarakat, seperti sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, poliknik, rumah bersalin, dan yang lainnya, sehingga dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, karena memiliki jaringan yang luas dan mencakup kepada seluruh lapisan masyarakat. Kemudian, konsep dasar Persis adalah lebih condong kepada tata cara ibadah, pendidikan, pengajian majelis belajar, dan sebagainya, sehingga organisasi Persis lebih mengutamakan kebutuhan masyarakat daripada mengutamakan kepentingan organisasi.
B.     Saran
Semoga makalah ini dapat menjadi bahan kajian untuk para penulis dan peneliti pergerakan Islam di Indonesia, dan dapat memberikan kontribusi yang berarti untuk kemajuan para pejuang akademik di masa yang akan datang. Selain itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk menjadi bahan acuan dalam perbaikan selanjutnya, sehingga permohonan maaf atas kesalahan yang terdapat dalam penulisan makalah ini, serta selayaknya ungkapan terima kasih disampaikan untuk perhatian yang diberikan.



BIBLIOGRAFI


Armando, Nina M., dkk., (Ed. Bahasa), Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005.
Asmuni, M. Yusran, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Pemikiran dan Pembaharuan dalam Dunia Islam, Cetakan kedua, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998.
Diktat mata kuliah, Kemuhammadiyahan I-II, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya.
Hasan, M. Iqbal, Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002.
Khojir, Tradisional dan Modern Pendidikan Islam, Jurnal Ilmiah Manahij, STAIS Kutai, Vol. 1 No. 1, Mei 2008.
Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam: Bagian Ketiga, pent. Ghufron A. Mas’adi, dari judul asli, A History of Islamic Societies, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999.
Nazir, Moh., Metode Penelitian, Cetakan keenam, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005.
Pusat informasi dan komunikasi Islam di Indonesia, Penunjang Aktivitas Dakwah di Asia Tenggara: Seputar Organisasi Islam Menghadapi Serangan Budaya Zaman, versi ebook download, 2002, www.alislam.or.id
Redaksi Ensiklopedi Indonesia, Ensiklopedi Indonesia, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.
Setiawan, Ebta, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Versi Offline, Freeware copyright 2010.
Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010.
Syaukani, Ahmad, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, Bandung: Pustaka Setia.
Wildan, Dadan, Yang Da’i Yang Politikus: Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis, Cetakan kedua, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

window.setTimeout(function() { document.body.className = document.body.className.replace('loading', ''); }, 10);