Senin, 11 Juni 2012

ETIKA & FILSAFAT KOMUNIKASI: HAKIKAT KEHADIRAN MEDIA DAN PENANGGULANGAN KEKERASAN MEDIA


A.    Pendahuluan
Era kemajuan teknologi sebagai lambang globalisasi tidak terkecuali dengan perkembangan media sebagai sarana komunikasi, sehingga media turut berpartisipasi dalam kemajuan zaman atau modernisasi, karena untuk memperoleh informasi di tengah kemajuan teknologi menjadi lebih mudah, tanpa dibatasi ruang ataupun waktu.
Tetapi kemajuan media yang dipengaruhi unsur kemajuan teknologi tersebut bukan berarti melepaskan sisi negatif yang selalu bersama dengan sisi positif yang dibawa oleh perkembangan media, karena tidak sedikit dampak negatif yang ditimbulkan akibat kemudahan dan kebebasan dalam memperoleh atau membagi informasi tersebut melalui media.
Disebabkan alasan logis tersebut,  diperlukan pembahasan mengenai sisi positif dan negatif dari media tersebut, serta dalam lingkup filsafat, pemahaman terhadap hakikat dari media sangat diperlukan, sehingga perumusan tersebut ingin dituangkan ke dalam makalah sederhana ini, dengan harapan dapat bermanfaat dan mencapai tujuan yang diharapkan dalam pembuatan makalah ini, yaitu pemahaman terhadap media dari sisi positif dan negatif, serta memberikan tawaran solusi untuk diimplementasikan.

B.     Hakikat Kehadiran Media Bagi Umat Manusia
Media komunikasi merupakan sarana untuk memperoleh informasi, dalam pengertiannya berfungsi sebagai sarana untuk memperluas dan memperbesar kemampuan umat manusia untuk membina jalinan hubungan komunikasi dengan manusia lainnya, hubungan komunikasi antar manusia tersebut melalui jalur media komunikasi dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kualitas peradaban manusia sendiri, sehingga perkembangan media komunikasi telah dapat mengantarkan manusia memasuki satu peradaban yang memberi kemungkinan untuk menembus ruang dan waktu.[1]
Media massa adalah saluran penyampaian pesan dari komunikan yang relatif tidak terbatas dan bersifat heterogen, karena memiliki kemampuan untuk mempengaruhi khalayak, bahkan dapat memaksa khalayak untuk melakukan hal yang luar biasa dalam mempengaruhi seseorang mulai dari proses kognitif hingga efektif maupun behavioural, sehingga dampak yang diakibatkan media massa menjadi perhatian para pakar komunikasi dan mencoba menilai media, dan memunculkan sejumlah teori mengenai penilaian terhadap media tersebut.[2]
Munculnya keprihatinan para pakar tersebut seiring dengan ketakutan terhadap kekuatan media yang dianggap dapat mengendalikan pikiran orang, sehingga untuk mengantisipasi ketakutan tersebut telah dilakukan berbagai kajian ilmiah terutama bagi kalangan masyarakat yang dapat menerima kehadiran media[3], dalam pandangan terhadap efek media yang dapat mempengaruhi khalayak, beberapa pakar mempunyai perbedaan dalam mengenai efek media bagi khalayak, berikut sebagian pendapat yang berbeda dalam menginterpretasikan efek media bagi khalayak:[4]
1.      Menurut Scharam, menyatakan efek hanyalah perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan media
2.      Menurut Steven M. Chaffee, melihat efek pesan yang disampaikan media adalah pendekatan media yang meletakkan pendekatan pertama dalam mempelajari pengaruh media massa, sedangkan pendekatan kedua melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak, seperti perubahan perasaan, perubahan sikap, dan perubahan perilaku, atau dengan istilah lain adalah perubahan kognitif, afektif dan behavioural, sedangkan pendekatan ketiga adalah meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa seperti individu, kelompok, organisasi, masyarakat atau sebuah bangsa.
3.      Menurut McLuhan, menyatakan bahwa kehadiran media massa mempunyai efek bagi khalayak, teori yang dikemukakan McLuhan disebut dengan teori perpanjangan alat indra.
Sebagai alat, media komunikasi membantu manusia mendistribusikan ide-ide, gagasan, dan pikirannya dalam bentuk lambang yang berarti kepada manusia lainnya, selain memproduksi dan mendistribusikan pesan, media komunikasi juga membantu, menyimpan pesan-pesan komunikasi berupa ide-ide, gagasan, dan pikiran manusia, dengan kemampuan yang terbatas untuk mengingat seluruh informasi yang ada, diterimanya, dan yang dibutuhkannya, sehingga membutuhkan sarana tertentu untuk menyimpan informasi-informasi tersebut untuk kemudian ditemukan kembali pada saat yang diperlukan.[5]
Media dipenuhi dengan rekayasa yang tersembunyi dan berdampak pada kesadaran pembaca, atau pendengar, agar meyakini opini sebagai kebenaran dan fakta, media adalah perayu ulung (demagogy) dan hampir selalu sukses melakukan hipnotis kepada massa, sehingga sulit untuk membedakan media yang dianggap bermutu dan yang tidak.[6]
C.    Penanggulangan Kekerasan dan Pornografi dalam Media
Memang media di Indonesia, baik media elektronik maupun cetak, kini dipenuhi dengan berbagai bentuk atraksi kekerasan, seperti lebih memilih untuk menjadi pembuat api di tengah konflik untuk mendapatkan keuntungan daripada pencipta perdamaian, kekerasan tersebut melibatkan kekerasan linguistik dalam bentuk penggunaan kata-kata yang bersifat sarkastik, kekerasan simbolik, kekerasan virtual, sampai pada kekerasan yang dari luar tampak lembut, tetapi memiliki cara pandang yang rasistis dan diskriminatif, kondisi seperti ini memang mengundang sebuah keprihatinan tersendiri, sehingga para orang tua banyak yang bingung dengan pola pendidikan anaknya, ataupun para praktisi pendidikan.[7]
Kekerasan diartikan sebagai kekuatan untuk memaksa, dalam paksaan ditemukan unsur dominasi, dominasi tersebut berada pada tatanan yang terlihat sampai yang tidak terlihat, bentuk-bentuk dominasi tersebut dapat dilihat dari dominasi fisik, dominasi verbal, moral, dan psikologis, dominasi tersebut berdampak negatif pada manusia, karena secara langsung bisa menciptakan luka fisik dan psikologis, dominasi tersebut dapat dilihat di dalam penggunaan kekuatan bersenjata, manipulasi politik melalui fitnah, pemberitaan yang tidak berimbang tentang suatu peristiwa, pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan pihak tertentu, dan penghinaan eksplisit yang secara jelas melukai hati orang yang mendengarnya.[8]
Kekerasan didefinisikan sebagai prinsip tindakan yang mendasarkan diri pada kekuatan untuk memaksa pihak lain tanpa persetujuan, bentuk dari kekerasan antara lain; fisik, verbal, moral, psikologis atau melalui gambar, kekerasan secara verbal (ungkapan) yang nyata seperti; penggunaan kekuatan, manipulasi, fitnah, pemberitaan yang tidak benar, pengkondisian yang merugikan, kata-kata yang memojokkan, dan penghinaan, logika kekerasan merupakan logika kematian karena bisa melukai tubuh, melukai secara psikologis, merugikan, dan bisa menjadi ancaman terhadap integritas pribadi.[9]
Kekerasan yang paling banyak dan cenderung disukai di negara Indonesia adalah kekerasan pada berita-berita kriminal, kekerasan ini biasa disebut sebagai “kekerasan dokumen”, yaitu penayangan gambar kekerasan yang dipahami pemirsa sebagai dokumentasi atau rekaman fakta kekerasan, penggambaran bisa melalui tindakan (pembunuhan, pertengkaran, perkelahian, kerusuhan dan tembakan), atau situasi (konflik, luka, tangis) karena emosi yang terungkap menggambarkan perasaan yang terdalam.[10]
Etika komunikasi diperlukan untuk mendukung suatu politik media yang protektif terhadap mereka yang rentan, tetapi tidak represif, politik media seharusnya diarahkan untuk perlindungan anak dari siaran yang merugikan, perlindungan bukan berupa hukuman, tetapi lebih kepada pendampingan anak-anak saat berinteraksi dengan media.[11]
Media massa merupakan media dalam menyampaikan informasi perubahan kepada masyarakat, sehingga dianggap sebagai alat konstruksi sosial yang paling ampuh, tetapi pesan yang dibawa media massa tidak hanya bersifat positif, tapi juga bersifat negatif, bahkan kadang-kadang pesan positif dimodifikasi hingga menjadi negatif, dalam kaitannya dengan permasalahan gender, media massa sebenarnya merupakan alat strategis untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap tindak kekerasan pada perempuan karena memiliki hegemoni untuk membangun opini publik, di lain pihak, media massa ternyata menjadi alat strategis untuk mengembangkan bahkan melestarikan tindak kekerasan pada perempuan, berkaitan dengan kemampuan media yang dapat menciptakan realitas sosial.[12]
Jika sudah seperti itu, kekerasan pun tidak lagi dipersepsi sebagai kekerasan, melainkan sebagai sesuatu yang wajar, atau yang lebih berbahaya lagi, kekerasan dianggap sebagai sebuah tata normatif, sehingga suatu tindak kekerasan tidak dapat didiamkan begitu saja, karena tindakan tersebut dapat dianggap biasa, kemudian semakin didiamkan terus, orang yang justru tidak melakukan tindakan kekerasan justru malah menjadi orang yang bersalah.[13]
Pornografi hanya melecehkan wanita dan menjadikan wanita hanya sebagai objek seksual dan korban pemuas hasrat, menurut kau feminist, pornografi erat hubungannya dengan kekerasan terhadap wanita-gender, tetapi pornografi secara kontinyu (terus-menerus), seperti yang diungkapkan David Trend, dapat memicu terjadinya kasus kriminalitas seperti perkosaan.[14]
D.    Penutup
Bagian akhir dari pembahasan adalah kesimpulan dari uraian pembahasan tersebut, yaitu sebagai berikut:
1.      Hakikat media bagi umat manusia adalah sebagai sarana komunikasi dan jalur pembina hubungan sosial antara individu atau kelompok, dengan kemajuan zaman menjadikan kemudahan dalam perolehan informasi tersebut tanpa terbatas jarak atau waktu.
Penanggulangan kekerasan dan pornografi dalam media adalah tidak terlepas dari peranan individu masing-masing, sehingga literasi media bagi setiap konsumen informasi melalui media menjadi sebuah keharusan, peningkatan pemahaman mengenai media adalah salah satu jalan agar setidaknya meminimalisir dampak negatif dari media itu sendiri.



[1]http://www.scribd.com/doc/11435697/46/C-HAKIKAT-KEHADIRAN-MEDIA-KOMUNIKASI-BAGI-KEHIDUPAN-MANUSIA (Online: 4 Mei 2012)

[2]Werner J Severin dan James W. Tankard, Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa, pent. Sugeng Hariyanto, Jakarta: Kencana, 2005 h. 320.

[3]B. Aubrey Fisher, Teori-teori Komunikasi, pent. Soejono Trimo, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1986, h. 180.

[4]Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1986,     h. 220.

[5]http://www.scribd.com/doc/11435697/46/C-HAKIKAT-KEHADIRAN-MEDIA-KOMUNIKASI-BAGI-KEHIDUPAN-MANUSIA (Online: 4 Mei 2012)

[6]http://id.shvoong.com/books/1942088-etika-komunikasi-menipulasi-media-kekerasan/ (Online: 4 Mei 2012)


[7]http://rumahfilsafat.com/2008/02/24/menyingkap-ciri-estetik-%E2%80%9Ckekerasan%E2%80%9D-media/ (Online: 4 Mei 2012)

[8]Haryatmoko, Etika Komunikasi Politik, Yogyakarta: Kanisius, 2007, h. 119-143.

[9]http://komkumuwa.blog.com/2009/02/06/menghadapi-kekerasan-dalam-media/ (Online: 4 Mei 2012)

[10]http://ruangstudio.blogspot.com/2009/04/kekerasan-dalam-media.html (Online: 4 Mei 2012)

[11]http://komkumuwa.blog.com/2009/02/06/menghadapi-kekerasan-dalam-media/ (Online: 4 Mei 2012)

[12]http://luciatriedyana.wordpress.com/tag/kekerasan-dalam-media/ (Online: 4 Mei 2012)

[13]Reza A.A Wattimena, Melampaui Negara Hukum Klasik, Yogyakarta: Kanisius, 2007, h. 204-209.

[14]http://luciatriedyana.wordpress.com/tag/kekerasan-dalam-media/ (Online: 4 Mei 2012)

 
DAFTAR PUSTAKA

Fisher, B. Aubrey, Teori-teori Komunikasi, pent. Soejono Trimo, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1986.
Haryatmoko, Etika Komunikasi Politik, Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1986.
Severin, Werner J, dan James W. Tankard, Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa, pent. Sugeng Hariyanto, Jakarta: Kencana, 2005
Wattimena, Reza A.A, Melampaui Negara Hukum Klasik, Yogyakarta: Kanisius, 2007.
http://id.shvoong.com/books/1942088-etika-komunikasi-menipulasi-media-kekerasan/
http://komkumuwa.blog.com/2009/02/06/menghadapi-kekerasan-dalam-media/
http://luciatriedyana.wordpress.com/tag/kekerasan-dalam-media/
http://ruangstudio.blogspot.com/2009/04/kekerasan-dalam-media.html
http://rumahfilsafat.com/2008/02/24/menyingkap-ciri-estetik-%E2%80%9Ckekerasan%E2%80%9D-media/
http://www.scribd.com/doc/11435697/46/C-HAKIKAT-KEHADIRAN-MEDIA-KOMUNIKASI-BAGI-KEHIDUPAN-MANUSIA

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa share ya... :D