This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Kamis, 08 Januari 2015
NASKAH SYARHIL QUR'AN: MENELADANI AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW DALAM SIKAP RENDAH HATI
10.48
20 comments
بسم
الله الرّحمن الرّحيم
الحمدلله،
والصّلاة و السّلام على رسول لله، سيّدنا محمد إبن عبد لله، وعلى آله ومن الوّله،
ومن تبع الهده، إلى يوم الخشرة و النّدامة، أمّابعده.
Yang terhormat para alim ulama, tokoh masyarakat yang
dimuliakan oleh Allah SWT.
Yang terhormat, dewan hakim yang berbahagia.
Segenap hadirin, teman-temanku,
para peserta lomba, yang mudah-mudahan diberikan Allah berkah dan hidayah-Nya.
amin.
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Beberapa abad
silam, dalam tatanan sejarah umat Islam, ada banyak sekali perbuatan-perbuatan
kejam, dilakukan oleh manusia-manusia yang tidak memiliki rasa kemanusiaan,
jauh dari sifat kemuliaan, ada banyak wanita dilecehkan, bayi yang terlahir
dengan jenis perempuan, dikubur hidup-hidup tanpa ampunan, bahkan saling
membunuh antar sesama menjadi kebiasaan, minuman dan pesta pora menjadi
kebudayaan, setiap pemimpin masing-masing mengedepankan kesombongan, banyak
jatuh korban karena kebiadaban, lebih banyak daripada jumlah korban kecelakaan
pesawat AirAsia yang masih dalam proses pencarian, inilah potret bangsa
Jahiliyah sebelum Islam datang.
Beberapa abad
silam, juga dalam tatanan sejarah umat Islam, tepatnya pada 12 rabi’ul awwal di
hari senin, lukisan indah coretan sejarah mencatat tentang kelahiran orang yang
akan membawa cahaya di tengah kegelapan, seorang manusia special yang mengemban
misi penting dari yang Maha Rahman, orang yang mengubah peradaban kelam,
menjadi peradaban penuh kebanggaan, dia lah baginda Nabi Muhammad saw.
Refleksi
konstruksi sejarah tersebut, memberikan gambaran jelas bahwa misi terpenting
Nabi Muhammad adalah membawa perubahan, dengan revolusi mental umat yang tidak
berperadaban, menjadi manusia yang penuh kesantunan, dengan menerapkan metode
perbaikan moral, perbaikan perilaku, dan perbaikan akhlak.
Dalam
perspektif komunikasi dakwah, Nabi Muhammad saw telah melakukan inovasi proses
perubahan sosial, karena dengan kemuliaan perilakunya, secara dinamis dan
sistematis, akhlak nabi dapat diterima oleh masyarakat jahiliyah, dan dapat
diadopsi oleh semua orang tidak terbatas zaman. Oleh karenanya hadirin,
sekaligus memperingati Kelahiran Nabi Muhammad saw, dalam momen Pekan Olah Raga
dan Seni yang dilaksanakan di halaman Pontren Sabilal Muhtadin ini, kita akan
membahas tuntas kemuliaan salah satu akhlak Nabi melalui diskursus syarah
al-Qur'an kami yang berjudul:
Selasa, 15 Juli 2014
Makalah MMQ: KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN
09.53
No comments
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam kajian sejarah mencatat bahwa di antara persoalan-persoalan kontroversial pada hari-hari pertama sesudah wafatnya Rasulullah SAW adalah persoalan politik atau yang biasa disebut persoalan al-Imamah atau kepemimpinan. Meskipun masalah tersebut berhasil diselesaikan dengan diangkatnya Abu Bakar (w. 13 H/634 M) sebagai khalifah, namun dalam waktu tidak lebih dari tiga dekade masalah serupa muncul kembali dalam lingkungan umat Islam. Kalau pada pertama kalinya, perselisihan yang terjadi adalah antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, maka pada kali ini perselisihan yang terjadi adalah antara khalifah Ali bin Abi Thalib (w. 41 H/661 M) dan Mu`awiyah bin Abi Sufyan (w. 64 H/689 M) dan berakhir dengan terbunuhnya khalifah Ali dan bertahtanya Mu`awiyah sebagai khalifah dan pendiri kerajaan Bani Umayyah (al-Syahratsani, 1387 H: 24).
Kemunculan problematika tersebut dikarenakan al-Qur`an maupun al-Hadis sebagai sumber hukum Islam tidak memberikan penjelasan secara pasti mengenai sistem pemerintahan dalam Islam, konsepsi kekuasaan dan kedaulatan serta ide-ide tentang konstitusi (M. Sirojuddin Syamsuddin, 1989: 252).
Sehingga sangat wajar jika permasalahan mengenai kepemimpinan juga terdapat di negara-negara yang sebagian besar umat Islam, tidak terkecuali negara republik Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam juga terkena polemik mengenai kepemimpinan.
Permasalahan kepemimpinan menjadi menarik untuk dikaji karena menyangkut pentingnya pengetahuan mengenai konsep kepemimpinan dalam Islam, dengan maksud menambah wawasan dan keluasan pemikiran khususnya bagi umat Islam untuk memahami makna kepemimpinan sesungguhnya berdasarkan pedoman inti umat Islam yaitu Al-Qur'an, melalui uraian makalah yang berjudul “Kepemimpinan dalam perspektif Al-Qur'an”.
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana terminologi pemimpin dalam Al-Qur'an?
b. Bagaimana Penafsiran para ulama tentang ayat-ayat kepemimpinan?
3. Tujuan Penulisan
a. Terminologi pemimpin dalam Al-Qur'an
b. Pendapat para mufasir tentang ayat-ayat kepemimpinan
4. Metode Pembahasan
Pembahasan dalam makalah ini diuraikan dengan menggunakan studi kepustakaan atau kajian literatur, karena uraian pembahasan diambil berdasarkan sumber-sumber tertulis. Kemudian dalam interpretasi penafsiran ayat Al-Qur'an menggunakan metode hermeneutik, yaitu menjelaskan kembali hasil penafsiran para ulama terhadap suatu pembahasan ayat Al-Qur'an.
Sabtu, 13 Juli 2013
Materi Mengajar: PENGENALAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN KOMPUTER
13.24
1 comment
Materi
Ilmu Komputer, 24 Juni 2013
By
Rafiqi
Mahdi
Komputer secara etimologi;
berasal dari kata computing artinya menghitung, sebagian pendapat
berasal dari kata to compute yang berarti untuk menghitung, computer
berarti penghitung atau alat untuk menghitung.
Komputer secara terminologi:
adalah alat untuk mengolah data
menurut prosedur yang telah dirumuskan, kata komputer semula dipergunakan untuk
menggambarkan orang yang pekerjaannya melakukan perhitungan aritmatika, dengan
atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin atau
alat itu sendiri.
Komputer juga dapat dipahami sebagai sistem yang
menggunakan 3 bagian utama yaitu Central Processing Unit (CPU) yang
berfungsi untuk mengolah, memproses, memanipulasi data; kemudian Memory yang berfungsi untuk
merekam, mencatat, mengingat, serta menyimpan data dalam selang waktu sangat pendek
atau sangat panjang; dan I/O (input/output) yang berfungsi melewatkan
data masuk dan atau keluar.
Selasa, 04 Desember 2012
ILMU KALAM: AHL AL-SUNNAH WA AL-JAMA’AH (SALAF DAN KHALAF)
12.14
No comments
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Islam adalah agama yang bersifat
universal, karena setiap ajarannya mencakup ke seluruh aspek kehidupan manusia.
Semua ajaran Islam terkodifikasi di dalam kitab suci Alquran, akan tetapi
Alquran memerlukan penjelasan karena Alquran bersifat global. Oleh karenanya
interpretasi (penafsiran) Alquran mengalami perbedaan oleh umat Islam karena
versi penafsiran sesuai dengan situasi dan kondisi umat Islam yang
berbeda-beda.
Perbedaan penafsiran tersebut juga
yang membuat pola pikir aliran kalam berbeda, secara umum kerangka pikir para
mutakalimin ada dua, yaitu tradisional dan rasional. Mutakalimin yang berpola
pikir tradisional adalah terikat pada dogma dan ayat yang mengandung arti zhanni (teks yang mengandung arti lain
selain arti secara harfiah). Sedangkan mutakalimin yang berpola pikir rasional
berpikir sebaliknya, mereka terikat pada dogma yang jelas dan tidak
menginterpretasi ayat yang zhanni,
dan mereka lebih mengutamakan akal.[1]
Dari sekian beragam jenis
mutakalimin, terdapat aliran Ahl al-Sunnah
wa al-Jama’ah (kaum yang berpegang kepada sunnah dan kaum mayoritas) [2],
dan di dalamnya terdapat dua versi yang berbeda dalam mempertahankan ranah
ideologi (aqidah), mereka dikenal dengan istilah khalaf dan salaf.[3]
Terkait dengan masalah tersebut, dan karena materi mata kuliah yang diberikan
untuk menguraikan dalam bentuk makalah, maka makalah ini diberikan judul: AHL
AL-SUNNAH WA AL-JAMA’AH (SALAF DAN KHALAF).
B.
Rumusan Masalah
Terkait dengan judul makalah ini,
maka pembahasan materi makalah ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pemikiran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Salaf
dan Khalaf)?
2. Bagaimana perbedaan antara Salaf dan Khalaf?
3. Apa nilai dari aliran Salaf dan Khalaf?
C.
Tujuan
Penulisan
Berdasarkan dengan perumusan
masalah dari makalah ini, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Pemikiran ahl al-sunnah wa al-jama’ah (salaf
dan khalaf).
2. Perbedaan antara salaf dan khalaf.
3. Nilai dari aliran salaf dan khalaf.
[1]Rosihon Anwar dan
Abdul Razak, Ilmu Kalam, Cetakan II,
Bandung: Pustaka Setia, 2003, h. 32.
[2]Abdul Aziz Dahlan, Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam
bagian I: Pemikiran Teologis, Jakarta: Beunebi Cipta, 1987, h. 94.
[3]Syihab, Akidah Ahlus Sunnah Versi Salaf-Khalaf dan
Posisi Asya’irah di Antara Keduanya, Jakarta: Bumi Aksara, h. 7.
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA: IKLIM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
11.50
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Teori di dalam ilmu komunikasi dapat dikategorikan
multi dimensi karena mencakup segala hal terkait dinamika kehidupan sosial, hal
ini didasari dengan keterkaitan komunikasi sebagai alat interaksi bagi umat
manusia, sehingga dapat disimpulkan bahwa alasan keragaman teori tersebut
diuraikan berdasarkan keragaman fungsi komunikasi sebagai alat interaksi
tersebut yang merupakan suatu kebutuhan primer manusia sebagai makhluk sosial.
Para pakar komunikasi melakukan berbagai penelitian
terkait komunikasi yang dibangun oleh manusia sebagai alat interaksi dari
berbagai aspek dan sudut pandang serta faktor yang berkaitan, termasuk dalam
komunikasi antarbudaya terdapat istilah iklim komunikasi, istilah tersebut
merupakan bentuk penggambaran mengenai situasi atau suasana psikologis maupun
sosial yang mempengaruhi komunikasi. Interaksi antara orang-orang yang memiliki
perbedaan budaya memang menimbulkan lebih banyak salah pengertian daripada
keselarasan pengertian antara komunikator dengan komunikan.[1]
Dalam makalah sederhana ini mencoba untuk menguraikan
pembahasan mengenai hal tersebut, sebagai bentuk pemenuhan terhadap tugas yang
diberikan, serta materi yang ditawarkan dengan berlandaskan kepada beberapa
literatur yang dapat dicapai, makalah ini disusun dengan judul: “IKLIM
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA.”
Istilah iklim merupakan kiasan (metafora) yang
diterapkan pada situasi yang berbeda dengan tujuan menyatakan suatu kemiripan,
Sackmann menyatakan bahwa suatu kiasan dapat memberi gambaran yang gamblang
pada tingkat kognitif, emosional, perilaku, serta menyatakan suatu bagian
tertentu pada tindakan tanpa menetapkan perilaku sebenarnya dari pelaku atau
orang yang melakukan, dalam hal ini komunikator.[2]
Dari uraian mengenai
iklim dapat dilihat bahwa iklim komunikasi sangat bergantung pada keterbukaan,
proses pembuatan keputusan bersama, kepercayaan dan pemahaman terhadap tujuan
bersama, serta perasaan memiliki terhadap tujuan tersebut, dalam artian bahwa
iklim komunikasi menyangkut mengenai keselarasan pemahaman antara pemberi dan
penerima pesan.[3]
Sebagai pengantar dalam uraian pembahasan makalah ini,
adalah berdasarkan literatur yang diperoleh mengenai iklim komunikasi
antarbudaya yang dipahami dapat menghasilkan dampak positif atau negatif tergantung
kepada tiga dimensi sebagai berikut:
1.
Perasaan positif terhadap
komunikan
2.
Pengetahuan tentang komunikan
3.
Perilaku atau tindakan terhadap
komunikan
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan literatur yang diperoleh, perumusan
masalah yang menyesuaikan dengan materi pembahasan yang diuraikan dalam makalah
ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana Perasaan positif
terhadap komunikan?
2.
Bagaimana Pengetahuan tentang komunikan?
3.
Bagaimana Perilaku atau tindakan
terhadap komunikan?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun pembahasan yang diuraikan dalam makalah ini terkait
dengan permasalahan yang telah dirumuskan adalah sebagai berikut:
1.
Perasaan positif terhadap
komunikan
2.
Pengetahuan tentang komunikan
Perilaku atau tindakan terhadap komunikan
[1]Stewart L. Tubbs-Sylvia Moss, Human
Communication: Konteks-Konteks Komunikasi, Bandung: PT Remaja
Rodaskarya, 2001, h. 240.
[2]http://aaipoel.wordpress.com/2007/06/07/komunikasi-organisasi-dan-motivasi/
(Online: 9 Oktober 2012)
[3]http://brataashia.blogspot.com/2011/06/memahami-teori-iklim-komunikasi.html
(Online: 9 Oktober 2012)











